Home / Umum / Apa Kabar Libya, Setelah 5 Tahun ditinggal Khadafi

Apa Kabar Libya, Setelah 5 Tahun ditinggal Khadafi

Pemberontakan Libya yang didukung Barat secara resmi dimulai pada tanggal 17 Februari 2011, 5 tahun yang lalu. Qaddafi terguling dan tewas, dan negara yang kaya minyak ini dihantui ketidak-stabilan politik, dan ancaman dari kelompok teroris. Dengan dalih bahwa pemerintahan Qaddafi adalah diktator, dan rakyat menginginkan demokrasi, intervensi militer oleh NATO pun dilegalkan. Sanjungan dan pujian menggema di Barat ketika rezim Qaddafi berakhir.

“Orang-orang di Inggris salut atas keberanian Anda. Kami bangga atas peran yang kami mainkan untuk membantu Anda. Kami tahu, revolusi ini terjadi atas keberanian Anda. Keberanian orang-orang Beghazi dan Tripoli. Anda telah menunjukkan kepada dunia bahwa Anda telah menyingkirkan diktator dan memilih kebebasan.” (David Cameron)

Namun faktanya, 5 tahun setelah pemberontakan meletus, Libya berada dalam kondisi yang sangat buruk. Pendapatan minyaknya dibagi-bagi oleh berbagai korporasi, dan rakyatnya diancam oleh keberadaan kelompok teroris transnasional, termasuk ISIS, yang berusaha mencari celah dengan memanfaatkan ketidak-stabilan politik Libya.

Kesengsaraan dan Air Mata

Ahmed Gaddaf Al Dam, sepupu Qaddafi, berbicara kepada RT. Ia menyebut selama lima tahun ini, Libya telah menyaksikan situasi yang mencekam dan mengerikan akibat tindakan NATO.

“Ini adalah hari duka dan kesedihan. Di tanggal ini, pada tahun-tahun yang lalu, Libya adalah negara yang stabil dan aman. Namun kini telah berubah menjadi salah satu negara yang hancur. Rakyat terpaksa harus melarikan diri dari rumah-rumah mereka.”

“Libya pernah salah satu negara terkemuka benua Afrika, namun kini menjadi negara tertindas. Sekarang nasib Libya ada di tangan negara-negara lain. Kami melalui rasa sakit, pengorbanan, air mata, kerugian moral dan material. Itulah yang kami rasakan setelah intervensi mengerikan dari NATO dan aliansinya,” tambah Ahmed.

Hafsa Kara-Mustapha, seorang analis politik, menyebut bahwa krisis Libya adalah akibat dari intervensi yang dipimpin oleh Barat. Dulu di bawah kepemimpinan Qaddafi, kelompok-kelompok Islam radikal mati kutu dan tidak berkutik. Mengapa? Karena Qaddafi bertangan besi ketika berhadapan dengan kelompok ekstremis.

Qaddafi juga pernah memberingatkan Tony Blair pada tahun 2011 (yang kala itu menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris), bahwa para jihadis akan menyerang Eropa jika pemerintahannya jatuh.

“Mereka ingin mengontrol Mediterania, lalu mereka akan menyerang Eropa. Kami tidak memerangi mereka, tetapi mereka yang menyerang kami. Saya ingin mengatakan yang sebenarnya, dan ini bukanlah hal yang sulit. Ada sebuah organisasi teroris di wilayah kami, mereka bernama Al Qaeda Organization in North Africa. Karenanya, saya harus mempersenjati rakyat dan melawan mereka. Jika tidak, maka rakyat Libya akan terbunuh, kerusakan kan terjadi di Mediterania, Eropa, dan seluruh dunia. Kelompok-kelompok bersenjata ini menjadikan situasi di Libya sebagai pembenaran, dan kami akan melawan mereka.”

Bahkan setelah peringatan Qaddafi menjadi kenyataan, Washington tetap meyakini bahwa menggulingkan Qaddafi adalah tindakan yang benar. juru bicara Wakil Departemen Luar Negeri Mark Toner menyebut bahwa pembantaian mengancam rakyat Libya, dan karenanya intervensi militer adalah upaya untuk menyelamatkan rakyat.

ISIS di Libya

Jumlah anggota ISIS yang berada di Libya diperkiran mencapai 5.000 orang (The Guardian, 9 Februari 2016). ISIS mengontrol pelabuhan Sirte, dan sedang berusaha untuk mengambil alih ladang minyak Libya. Sejak operasi militer ofensif yang dilakukan oleh pasukan gabungan (tentara Suriah, Iran, Rusia, Hizbullah) di Suriah, ISIS menderita kerugian yang tidak sedikit. Tak heran jika kelompok teroris ini melirik ladang minyak baru, dan Libya, adalah target yang menggiurkan.

Martin Kobler, perwakilan khusus PBB di Libya menyatakan rasa frustasinya melihat sengketa antar kelompok di Libya. ISIS tidak bernegosiasi atau berunding, tetapi mencaplok wilayah setiap hari. Jika hal ini terus dibiarkan, maka kemungkinan ISIS akan menguasai ladang minyak Ras Lanuf. Karenanya, Martin meminta agar semua pihak bersatu untuk melawan ancaman yang terus menerus menghantui Libya.

Intervensi Lagi?

Setelah 5 tahun intervensi Libya berlalu, AS dan Inggris kembali mempertimbangkan untuk mengambil langkah-langkah militer untuk menumpas ISIS. Namun Amnesty Internasional (AI) mengecam keras upaya tersebut. Menurut AI, negara-negara yang tergabung di dalam NATO harus bertanggung jawab atas segala kehancuran yang terjadi di Libya.

“Aturan hukum harus ditegakkan, dan harus berjalan seiring dengan keadilan atas kejahatan yang telah meluas. Libya membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dunia tidak boleh diam ketika Libya membutuhkan mereka. Selama lima tahun terakhir, Libya telah jatuh ke dalam jurang kehancuran yang mendalam. Pelanggaran hak asasi manusia, pelanggaran hukum, penyalahgunaan wewenang, dan kejahatan perang dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata di Libya yang saling memperebutkan pengaruh. Kini Libya juga menghadapi ancaman ISIS,” ujar Boumedouha. [liputanislam]

About abah

Check Also

Jakarta Terpilih Sebagai Kota Paling Intoleran Se Indonesia

PKSPUYENGAN.COM — DKI Jakarta terpilih sebagai kota paling intoleran dari 94 kota di Tanah Air berdasarkan …

One comment

  1. Khadafi pemimpin kontroversial yang luar biasa

Leave a Reply

%d bloggers like this: