Home / Umum / [VIDEO] FPI Anti Pancasila: Serangan FPI Saat Upacara Hari Pancasila

[VIDEO] FPI Anti Pancasila: Serangan FPI Saat Upacara Hari Pancasila

Munarman komando laskar jihad FPI sedang mencekik peserta upacara hari Pancasila di Monas

Belasan orang terluka setelah massa beratribut Front Pembela Indonesia (FPI) mendatangi dan menyerang peserta unjukrasa oleh Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Laporan-laporan menyebutkan, sekitar 1000 orang beratribut FPI itu mendatangi Silang Monas tempat aksi damai oleh sekitar 200 Aliansi Kebangsaan, yang melibatkan sejumlah wanita dan anak-anak, bertepatan dengan Hari Pancasila Lahir Pancasila.

Insiden ini bermula ketika AKKBB akan menggelar aksi di Monas, Jakarta, pada 1 Juni untuk memperingati Hari lahir Pancasila. Namun belum lama aksi dimulai, kumpulan masa AKKBB diserang oleh masa beratribut FPI.

“Kami berjumlah sekitar 200 orang, yang berjalan memasuki arena Monas untuk sebuah aksi damai memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kami ingin menyerukan perlunya penghargaan terhadap keberagamaan dan perbedaan komponen bangsa. Kami belum melakukan apa-apa, baru mulai berjalan. Tiba-tiba sekelompok orang yang membawa bendera dan atribut FPI dari depan dan dari belakang menyerang kami”, papar Ustadz Mas Zaenal Muhyiddin.

Ustadz Mas Zaenal dan istrinya Hj. Dedeh Masyitoh termasuk yang selamat dari amukan FPI, yang menuduh massa yang beraksi sebagai kafir dan murtad.

KH Maman Imanul Haq  yang biasa disapa Kang Maman ikut mengiring massa itu. Ia didekati oleh sekitar sepuluh orang yang beratribut FPI tersebut dengan membawa tongkat bambu dan bendera FPI. Tanpa basa-basi mereka langsung memukul tulang rusuk dengan kepalan tangan yang sangat keras, menghantam kepala dengan bambu, memukul hidung dan dagu. Kang Maman terjungkal, mereka lalu menginjak-injak, melepaskan salah satu sepatu yang dipakai Kang Maman dan memukulkannya pada muka, hidung dan dagu.

“Saya memang tidak berniat  lari, karena ingin menyelamatkan ibu-ibu. Minimal ketika mereka menyerang saya, ibu-ibu punya waktu untuk berlari”, kata Kang Maman. “Dalam keadaan lunglai, mereka masih sempat merampas arloji saya. Mereka telah mencoreng nama Islam dan mengancam Pancasila dan hukum Negara Indonesia”, ungkap Kang Maman.

“Saya tidak ingin balas dendam kepada siapapun. Saya hanya ingin segenap elemen bangsa sadar, bahwa kekerasan tidak boleh dilakukan, oleh siapapun, kepada siapapun dan atas nama apapun. Apalagi Islam. Dan ini menuntut ketegasan negara”,  ucapnya.

“Persoalan kehidupan berbangsa tentu lebih fundamental. Inilah yang ingin kami peringati dari Pancasila. Yaitu penghormatan dan penghargaan terhadap segenap komponen bangsa. Perbedaan dan keragamaan, tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan antar kelompok dan komponen bangsa.

“Para pelaku kekerasan itu, seringkali menuduh kita sebagai antek asing. Sebenarnya siapa sih yang antek asing? Kita ingin kedamaian, mereka ingin kehancuran. Mereka bernafsu pada kekerasan, kita justru membuka dialog antar komponen. Orang seperti mereka yang justru dimanfaatkan untuk menghancurkan kita sebagai bangsa,” tegas Kang Maman, yang sempat dijahit lima jahitan di dagunya yang sobek, beberapa jahitan dan memar di kepala dan tulang rusuk depan bagian kiri.

Selain Kang Maman beberapa tokoh yang menjadi korban kekerasan tersebut adalah Dr. Syafi’i Anwar, Ahmad Suaedy, Imdadun Rahmat, Guntur Romli. Yang terakhir ini termasuk yang paling parah, dan sempat tidak sadarkan diri dalam waktu cukup lama.

Penyerangan itu dilakukan tidak dengan tangan kosong, melainkan dengan berbagai senjata, seperti bambu, alat pemukul yang sudah dipersiapkan dan juga alat pengeras suara yang dibawa. Massa aliansi tidak melawan, tetapi FPI tetap menyerang membabi buta dan tak pandang bulu, korban pun berjatuhan.

Lihat videonya

Kisah kebrutalan FPI tersebut diceritakan juga oleh Ade, salah seorang santri KH. Maman. Menurut Ade massa FPI menyerang secara sporadis dan brutal ke massa aliansi, tidak terkecuali perempuan. Kebetulan rombongan dari pesantren al-Mizan sebagian besar adalah perempuan.(PortalPuyengan)

 

Sumber: Dokumen

About abah

Check Also

Jakarta Terpilih Sebagai Kota Paling Intoleran Se Indonesia

PKSPUYENGAN.COM — DKI Jakarta terpilih sebagai kota paling intoleran dari 94 kota di Tanah Air berdasarkan …

Leave a Reply

%d bloggers like this: