Home / Umum / Penghinaan Ustad Arifin Ilham Kepada Nabi Muhammad SAW, Video

Penghinaan Ustad Arifin Ilham Kepada Nabi Muhammad SAW, Video

Ustad Arifin ilham membuat heboh jagad dunia maya. Sebab, dalam salah satu ceramahnya, ia dinilai melecehkan Nabi Muhammad SAW.

Tudingan pelecehan tersebut, bermula dari penjelasannya dalam satu ceramah di televisi swasta nasional, mengenai Rasulullah dan praktik poligami.

Kala itu, ia mengatakan,” bahkan Nabi Muhammad SAW pun tak bisa berlaku adil.”

Tudingan tersebut, dilontarkan akun Satu Islam yang mengunggah potongan video ceramah sang ustaz dari televisi swasta nasional.

Akun Satu Islam, mengunggah video berdurasi 42 detik dan berjudul “Ustadz Arifin Ilham Hina dan Rendahkan Nabi saw” ke laman Youtube.

Menurut akun yang konsern untuk mempersatukan umat Islam dari berbagai mazhab tersebut, Ustad Arifin secara serampangan mengutip dan menafsirkan ayat-ayat suci.

Berikut penjelasan akun Satu Islam, mengenai penafsiran serampangan Ustad Arifin yang berujung pada tudingan penghinaan terhadap Nabi Muhhamad tersebut:

Ustadz Arifin IIlham bikin ulah lagi, sekarang sudah berani menghina dan merendahkan Rasulullah saw, bahkan dia berani memlintir terjemahan kalimat untuk menghina Baginda Nabi saw demi menutupi kelemahan dirinya dalam berbuat adil dengan kedua istrinya, kalimat yang dia plintir sebagai berikut:

لن تستطیعوا ان تعدلوا بین النساء ولو حرصتم.

Ustadz Arifin Ilham menerjemah kalimat diatas pada lafadz( لن تستطیعوا ان تعدلوا) sebagai berikut : Hai,, Muhammad,, kamu tidak akan pernah mampu berbuat adil”

Padahal kalimat diatas kalau dilihat dari segi gramatik arabnya akan tidak pas kalau diterjemahkan seperti diatas, karena, kalimat tersebut menunjukkan jama’ bukan mufrad, maka jelaslah yg jadi khithab(yang di maksud) pada klimat diatas bukanlah Rasulullah Saw akan tetapi kaum laki-laki yg diluar Rasulullah Saw.

kalimat tersebut diatas lebih sebagai penegasan bagi ayat al-nisa ayat 3, -silahkan baca ayatnya-.

Dan andai pun Ustadz Arifin Ilham memasukan kalimat diatas dalam konsep balaghah ” اطلاق الکل واراده الجزء” maka hal ini akan tambah memperparah penafsiran lagi, karena hal itu akan berdampak pada penolakan terhadap surat al-nisa ayat 3.

Lihat videonya:

Melihat kelakuan Ustad Arifin Ilham ini mengingatkan saya pada kejadian saat Rasulullah saw masih hidup.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Ra berkata:

“Saat Rasulullah saww sedang membagi-bagikan ghanimah, kemudian datanglah seseorang dari Bani Tamim dengan pakaian yang pendek bagian bawahnya ( Cingkrang), di antara kedua matanya ada tanda bekas sujud yang menghitam, lalu ia berkata: “Berbuat adillah wahai Rasulullah!”

Rasulullah Saw bersabda: “Celakalah engkau, siapa yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Maka engkau akan binasa dan rugi jika aku sendiri tidak berlaku adil.”

Lalu Rasulullah Saww bersabda: “Akan datang suatu kaum kelak seperti dia, baik perkataannya, tapi buruk kelakuannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Mereka mengajak kepada Kitabullah, tetapi mereka sendiri tidak mengambil darinya sedikitpun.

Mereka membaca Al Quran, tetapi tidak melebihi kerongkongannya. Kalian akan mendapatkan bacaan Al-Qur’an mereka lebih baik dari kalian dan shalat dan puasa mereka lebih baik dari kalian. Mereka akan melesat meninggalkan Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Mereka mencukur kepala serta mencukur kumisnya, pakaian mereka hanya sebatas setengah betis mereka.” Setelah Rasulullah Saww menjelaskan ciri-ciri mereka, Rasulullah Saww bersabda: “Mereka akan membunuh para pemeluk Islam dan melindungi penyembah berhala!”

[Diriwayatkan dalam kitab: Bukhari fi kitab dad’ al-khalq Bab “Alamah An-Nubuwwah”, An-Nisai’ fi khasa-is hal 43, 44, Muslim fi Kitab Az-Zakah Bab At-Tahdzir Min Zinah Ad-Dun-ya, Musnad Imam Ahmad juz I hal 78, 88, 91)

Sumber: Satu Islam/Tribun News
Penulis: Manhaj Salafi

About abah

Check Also

MENHAN: Daripada Merepotkan WNI yang Gabung ISIS sebaiknya Gak Usah Pulang ke Indonesia

PKSPUYENGAN.COM — MENHAN, daripada merepotkan WNI yang Gabung ISIS sebaiknya Gak Usah Pulang. Menteri Pertahanan …

5 comments

  1. Ya memang, hadist itu benar dan konteksnya dalam perasaan. Siapa yang bisa menentukan perasaannya sendiri. Lebih cinta dan mood kepada siapa. Untuk itulah Allah HANYA mewajibkan berlaku adil dalam hal fisik (perkataan, perilaku, harta, dll) yang dapat dilihat dengan mata atau apa yang nampak, dengan menyembunyikan ketidakadilan dalam hal bathin (perasaan).

  2. berikut,

    وَرَوَى أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِي مِنِ طَرِيْقِ مَسْرُوْق عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رسول الله صلى الله سلم لَا يَكَادُ يَخْرُجُ مِن الْبَيْتِ حَتَّى يَذْكُرُ خَدِيْجَةَ فَيُحُسِنُ الثَّنَاءَ عَلَيْهَا، فَذَكَرَهَا يَوْمًا مِن الْأَيَّامِ، فَأَخَذَتْنِي الغِيْرَةُ فَقُلْتُ: هَلْ كَانَتْ اِلَّا عَجُوْزًا قَدْ اَبْدَلَكَ الله خَيْرًا مِنْهَا؟. فَغَضَبَ ثُمَّ قَالَ: لَا واللهِ مَا أَبْدَلَنِي اللهُ خَيْرًا مِنْهَا، آمَنَتْ إِذْ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَنِي اِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَّمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَدُ دُوْنَ غَيْرِهَا مِنَ النِّسَاءِ.

    “Imam Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah. Aisyah berkata: Rasulullah itu hampir tidak keluar rumah kecuali menyebut Khadijah dan memuji-mujinya. Aku pun cemburu, lalu berkata pada beliau: Bukankah dia hanya perempuan tua yang telah diganti oleh Allah dengan yang lebih baik?. Beliau pun lalu marah. Kemudian berkata: demi Allah, Allah tidak menggantinya dengan yang lebih baik. Dia beriman di saat orang-orang masih kufur. Dia mempercayaiku di saat yang lain mendustakanku. Dia membantuku di saat yang orang-orang menghalangiku. Allah telah memberikan rizki anak melalui dia dan tidak melalui yang lain.”

    Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa Siti Aisyah cemburu terhadap Siti Khadijah. Bahkan sampai muncul kata-kata yang bernada menghina pada Siti Khadijah. Kecemburuan ini disebabkan kecintaan nabi yang sangat besar pada sang Istri pertama. Kecintaan ini sudah diakui nabi secara langsung. Dalam kesempatan lain, nabi bersabda,

    إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

    “Sesungguhnya aku diberi rizki untuk mencintainya”

    Apa yang nabi sampaikan ini berawal dari keinginan nabi untuk memberikan daging yang disembelih pada keluarga Siti Khadijah. Akan tetapi Siti Aisyah tidak setuju dengan keinginan nabi tersebut.

    Sampai di sini, dengan bukti adanya kecemburuan dari Aisyah, menunjukkan nabi masih belum bisa memberikan cinta yang sama pada istrinya. Kecintaan Nabi pada Khadijah masih lebih besar dibandingkan dengan kecintaan beliau pada istri yang lain. Namun ketika membandingkan antara kecintaan nabi pada Aisyah dengan istri-istri nabi yang lain, selain Khadijah, maka kecintaan nabi pada Aisyah inilah yang paling besar. Dan ini tidak bisa dipungkiri. Bahkan nabi pun mengakuinya.

    Pada suatu malam, setelah membagi waktu untuk istri-istrinya secara adil, nabi berdoa,

    اَللَّهُمَّ هَذِهِ قِسِمَتِيْ فِيْمَا أَمْلِكُ فَلاَ تُؤَاخِذْنِيْ فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ

    “Ya Allah ini adalah caraku menggilir (istri-istrinya) dengan apa yang aku miliki, oleh karena itu jangan kau siksa aku sebab apa yang tidak aku miliki, sementara kau memilkinya”

    Apa yang nabi sampaikan ini karena kesadaran beliau bahwa kecintaan terhadap Aisyah lebih besar dari pada istri-istri yang lain. Beliau dengan sangat sadar tidak bisa membagi cintanya secara adil untuk semua istri-istrinya. Padahal Allah sudah menggariskan untuk berlaku adil ketika melakukan poligami.

    Melihat kenyataan ini, nabi memang tidak bisa berlaku adil, tapi dalam hal cinta, sebab cinta itu sudah di luar kendali manusia. Itu semua dalam kendali Allah. Sedangkan di dalam selain masalah cinta, nabi bisa berlaku adil. Seperti memberikan waktu secara adil untuk istrinya-istrinya. Nabi tidak pernah sekalipun berlaku adil dalam hal ini. Maka dari itu, lalu muncul kesimpulan bahwa nabi bisa berlaku adil dalam hal zhahir, namun untuk urusan bathin nabi tidak bisa melakukannya. Dan ini tidak menjadi aib, karena yang bathin ini sudah di luar kendali manusia.

  3. Katanya Satu Islam menyatukan umat Islam. Kok suka bikin propaganda? Nyari musuh itu namanya. Hadeeeuh. Ucapan ga sesuai perbuatan. Apa namanya? Munafik. Hati hati

  4. Arifin ini bukan Ustad, dia artis yang jualan Ayat ayat Allah, sok banget ngatain Nabi kgk Adil.. ayat dipakai sesuai hawa nafsunya saja.

Leave a Reply

%d bloggers like this: