Home / Umum / Saat Gus Mus Bicara Tentang Islam Rahmatan lilalamin di Amerika

Saat Gus Mus Bicara Tentang Islam Rahmatan lilalamin di Amerika

Oleh:  Yahya Cholil Staquf

Para pengundang itu tertarik kepada buku “Ilusi Negara Islam” (dapat anda baca DI SINI) yang baru-baru ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (dengan judul: “The Illusion of an Islamic State”) karena buku itu menggambarkan pengalaman Indonesia menghadapi berkembangnya ideologi Wahabi-Salafi dan ideologi-ideologi Islam radikal lainnya. Mereka beranggapan, buku itu dapat mengispirasi para pembuat kebijakan dan masyarakat umum di Eropa dan Amerika dalam menyikapi perkembangan Islam di wilayah masing-masing.

Gus Mus diundang karena dia adalah penulis epilog untuk buku itu, dengan tulisannya yang berjudul: “Jangan Berhenti Belajar”. Lebih dari itu, Gus Mus juga dipandang sebagai “the next in the row” (orang berikutnya) setelah Gus Dur (Kiyai Haji Abdurrahman Wahid) yang telah diterima dan diyakini oleh masyarakat global sebagai personifikasi faham keislaman yang moderat, toleran dan pro-human (berpihak pada kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan).

Orang-orang itu mengundang Gus Mus tanpa mengatakan apa yang mereka harapkan dari Gus Mus atau penjelasan apa yang ingin mereka dapatkan dari Gus Mus. Maka dalam orasi-orasinya pada forum-forum yang diselenggarakan oleh para pengundang itu, Gus Mus pun –seperti yang biasa ia lakukan dalam ceramah-ceramah pengajian kampung– sekedar menyampaikan gagasan-gagasannya sendiri tanpa memperdulikan kemungkinan persepsi atau tanggapan apa pun dari para pendengarnya.

Pokok-pokok gagasan itu adalah sebagai berikut:

Islam bagi Gus Mus adalah rahmatan lil ‘alamin –dengan pengertian yang telah sering kita dengar atau baca sendiri dari beliau;

Kelompok-kelompok muslim tertentu menjadi radikal dan bersikap bermusuhan terhadap siapa pun diluar kelompok mereka karena berkiblat pada gagasan-gagasan Islam yang dipropagandakan oleh gerakan Wahabi-Salafi yang berpusat di Saudi Arabia;

Mereka yang curiga dan fobi terhadap Islam hanya melihat atau mengambil referensi dari propaganda Wahabi-Salafi dan secara hantam kromo menganggap Islam identik dengan apa yang dipropagandakan oleh Wahabi-Salafi itu;

Kedua belah pihak (yang disebut dalam poin (2) dan (3) diatas) saling memperuncing kesalahpahaman dan kebencian satu terhadap yang lain dengan sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang salah serta aniaya dari masing-masing terhadap yang lain –Gus Mus menyebut pembelaan Barat yang membabibuta kepada Israel dalam penjajahan Palestina dan kekerasan membabibuta kelompok radikal sebagai contoh-contohnya—karena aniaya satu pihak merupakan dalil tambahan untuk membenarkan kebencian pihak lainnya;

Kedua-duanya sama-sama keblinger karena mengabaikan “Islam jenis lain”, yaitu seperti yang dipahami oleh Gus Mus sendiri;

Pemahaman Islam Gus Mus, yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin, oleh Gus Mus sendiri diyakini sebagai paham yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, dan berkaitan dengan itu, Gus Mus mempersilahkan untuk mengecek kepada tokoh-tokoh besar dunia Islam dewasa ini, seperti Grand Sheikh Al Azhar, Kairo, Syaikh Muhammad Thonthowi, Grand Mufti Syria, Syaikh Badruddin Hasun, Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama, Syaikh Ahmad Muhammad Sahal bin Mahfudh, dan lain-lain.

(File mp3 rekaman diskusi berikut orasi Gus Mus di The Heritage Foundation dapat didonlod disini)

Kehadiran Gus Mus di Eropa dan Amerika memancing ketertarikan berbagai pihak. Tidak kurang dari tim penasehat keamanan Presiden Obama yang terkait dengan Islam mengundang Gus Mus ke Gedung Putih untuk didengar pandangan-pandangannya. Demikian pula Center for Security Policy, sebuah think-tank kebijakan keamanan Amerika yang dipimpin oleh Frank J. Gaffney Jr., mantan asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat bidang kebijakan keamanan internasional.

Di kantor Center for Security Policy, tidak jauh dari Capitol Building (Gedung Parlemen Amerika), Gus Mus dirubung sekumpulan orang sangar yang sebagain besar Islamo-phobs (pembenci Islam). Mereka menghujani Gus Mus dengan pertanyaan-pertanyaan dan gugatan-gugatan nyelekit tentang Islam. Tapi mereka segera dibikin terlongong-longong oleh jawaban-jawaban santai Gus Mus yang berisi penjelasan-penjelasan yang belum pernah mereka dengar dari referensi Wahabi-Salafi, yang selama ini menguasai persepsi mereka tentang Islam.

Mereka bingung: kalau Islam itu seperti yang dijelaskan oleh Gus Mus, mereka mau membenci apanya? Berbagai kajian dan proposal strategi yang bertahun-tahun mereka susun untuk mengganyang Islam secara global jadi buyar tidak karuan, karena asumsi-asumsinya tentang Islam runtuh.

Lebih bengong lagi mereka mendengar keluhan Gus Mus,
“Salah satu sahabat terdekat Amerika adalah Arab Saudi. Tapi kaum simpatisan Arab Saudi di Indonesia melaknat Amerika setiap hari. Sedangkan kami, hanya karena kami memegangi sikap moderat dan toleran dalam ber-Islam, oleh mereka dituduh antek Amerika. Padahal Amerika sama sekali tidak mengenal kami!“

Tag: #Gus Mus, #Ilusi Negara Islam, #islam rahmatanlilalamin

About abah

Check Also

Akhirnya Komnas HAM mengakui Rizieq Shihab Bukan Ulama

PKSPUYENGAN.COM — Akhirnya Komnas HAM mengakui Rizieq Shihab Bukan Ulama. Karena banyak ulama yang berseberangan …

Leave a Reply

%d bloggers like this: